Budidaya Tanaman Lada



Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah rempah-rempah berwujud bijian yang dihasilkan oleh tumbuhan dengan nama sama. Lada sangat penting dalam komponen masakan dunia dan dikenal luas sebagai komoditi perdagangan penting di Dunia Lama. Pada masa lampau harganya sangat tinggi sehingga menjadi salah satu pemicu penjelajahan orang Eropa ke Asia Timur untuk menguasai perdagangannya dan, dengan demikian, mengawali sejarah kolonisasi Afrika, Asia, dan Amerika.

Budidaya Tanaman Lada


Di Indonesia, lada terutama dihasilkan di Pulau Bangka. Lada disebut sahang dalam bahasa Melayu Lokal seperti bahasa Banjar, Melayu Belitung, Melayu Sambas, dan lain-lain.


Budidaya Tanaman LadaKlasifikasi ilmiah
Kerajaan:     Plantae
   Divisi:     Magnoliophyta
      Kelas:     Magnoliopsida
         Ordo:     Piperales
            Famili:     Piperaceae
                Genus:     Piper
                    Spesies:     P. nigrum
       Nama binomial
       Piper nigrum L.

SYARAT TUMBUH
Tanaman lada tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian mulai dari 0-700 m di atas permukaan laut (dpl). Penyebaran tanaman lada sangat luas berada di wilayah tropika antara 200 LU dan 200 LS, dengan curah hujan dari 1.000-3.000 mm per tahun, merata sepanjang tahun dan mempunyai hari hujan 110-170 hari per tahun, musim kemarau hanya 2-3 bulan per tahun. Kelembaban udara 63- 98% selama musim hujan, dengan suhu maksimum 35oC dan suhu minimum 20oC. Lada dapat tumbuh pada semua jenis tanah, terutama tanah berpasir dan gembur dengan unsur hara cukup, drainase (air tanah) baik, tingkat kemasaman tanah (pH) 5,0-6,5.

Budidaya Tanaman Lada

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Bahan Tanam

Tanaman lada dapat diperbanyak secara generatif dengan biji, dan vegetatif dengan setek. Perbanyakan menggunakan setek lebih praktis, efisien dan bibit yang dihasilkan sama dengan sifat induknya. Setek tanaman lada dapat diambil dari sulur panjat, sulur gantung, sulur tanah dan sulur buah (cabang buah).

Sulur panjat adalah sulur yang tumbuh memanjat tanaman penegak, mempunyai cukup akar lekat pada setiap
buku, apabila ditanam akan menghasilkan tunas dan akar lekat yang dapat langsung melekat pada penegak lada.

Sulur gantung adalah sulur panjat yang menggantung atau tidak tumbuh memanjat pada tanaman penegak, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun).

Sulur tanah adalah sulur yang tumbuh merayap dipermukaan tanah, akar lekatnya terbatas, tiap buku tidak
keluar akar, apabila di tanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun).

Sulur buah (cabang buah) adalah cabang buah, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan cepat
menghasilkan buah, tetapi tanaman lada tidak dapat tumbuh tinggi dan tidak melekat pada tanaman penegak,
perakarannya dangkal, mudah stres apabila ketersediaan air tanah terbatas, keluarnya cabang buah cepat, pada umur 1 tahun sudah menghasilkan buah.

Bahan tanaman lada untuk bibit dapat berasal dari setek pendek maupun setek panjang. Setek pendek satu
ruas berdaun tunggal dari sulur panjat (Gambar 1) memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu relatif cepat, menghemat penggunaan bahan tanaman dan seragam. Bibit lada asal setek satu ruas berdaun tunggal sebaiknya lebih dahulu disiapkan dipersemaian, setelah ditanam di kebun memiliki beberapa kelebihan dibandingkan bibit tujuh ruas asal sulur panjat, sulur tanah dan sulur gantung yang ditanam langsung. Tanaman asal bibit dari setek satu ruas berdaun tunggal asal
sulur panjat yang telah disemaiakan di polibag memiliki kelebihan yaitu hanya memerlukan sedikit penyulaman, cabang generatif lebih banyak dan lebih cepat berbunga (2-3 tahun)

Penggunaan setek panjang 5-7 ruas yang langsung ditanam di lapang menanggung resiko kegagalan cukup besar dan sering menimbulkan kesulitan karena jumlah kebutuhan bibit yang banyak, sehingga cara ini kurang ekonomis.Sementara setek pendek 1 ruas berdaun tunggal yang disemai selama tiga bulan menunjukkan pertumbuhan di lapang lebih baik dibandingkan setek panjang 5-7 ruas yang ditanam langsung.

Lihat juga hama dan penyakitnya >>
Penanaman
Bibit lada setelah dilepaskan dari polibag atau setek 5-7 buku yang sudah tumbuh dan berakar ditanam dengan cara meletakkan miring (30-45o ) mengarah ke tajar, 3-4 buku/setek bagian pangkal tanpa daun dibenamkan mengarah ke tajar, sedangkan 2-3 ruas sisanya (berdaun) disandarkan dan diikat pada tajar. Selanjutnya tanah di sekelilingnya yang telah dicampur pupuk organik dipadatkan. Tanah di sekitar tanaman
lada dibuat sedikit guludan agar tidak tergenang air di musim hujan. Guludan tidak boleh terlalu tinggi agar tidak menjadi tempat sarang rayap.

Setelah ditanam, tanah di sekelilingnya dipadatkan dan di atas tanaman lada diberi naungan yang diikatkan pada tajar agar tanaman lada yang baru ditanam terlindungi dari teriknya sinar matahari. Naungan tanaman lada yang umum digunakan dan mudah diperoleh adalah alang-alang atau tanaman hutan lainnya yang tidak mudah lapuk. Naungan dilepas apabila tanaman lada telah tumbuh kuat.

Pemeliharaan
Pemangkasan dan pengikatan sulur panjat
Apabila pada tanaman lada telah tumbuh 8-10 buku (umur 5-6 bulan), dilakukan pemangkasan pada ketinggian 25-30 cm dari permukaan tanah. Pemangkasan dilakukan di atas 2-3 buku. Tujuan pemangkasan untuk merangsang pembentukan 3 sulur panjat baru. Sulur baru tersebut harus dilekatkan dan diikatkan pada tajar lada. Pengikatan dilakukan menggunakan tali rafia yang dibelah 2-4 agar tali rafia tidak menggangu pertumbuhan lada. Pemangkasan berikutnya dilakukan apabila telah keluar tunas baru dan telah mencapai
7-9 buku pada umur sekitar 12 bulan, yaitu pada buku yang tidak mengeluarkan cabang buah. Pemangkasan berikutnya dilakukan pada umur 2 tahun, sehingga terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif. Hasil pemangkasan sulur panjat tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman/setek untuk pengembangan pembibitan lada.

Pemangkasan sulur gantung
Sulur gantung adalah sulur panjat yang tumbuhnya tidak melekat pada tajar, karena tidak dilakukan pengikatan pada tajar. Sulur gantung yang terus tumbuh tidak diikuti dengan tumbuhnya akar lekat. Untuk itu sulur gantung sebaiknya secara teratur dipangkas agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman dan produksi lada.

Apabila petani menanam lada menggunakan sulur gantung akan menghasilkan tanaman lada sampai umur 1-2
tahun tidak keluar cabang buah dan tanaman lada tidak melekat pada tajar tanaman baru mulai berbuah setelah umur 3-5 tahun. Petani harus melakukan pengikatan tanaman lada pada tajar secara teratur. Bahan tanaman lada dari sulur gantung akan tumbuh cabang buah baru setelah 1-2 tahun. Sehingga penggunaan bahan tananam lada dari sulur gantung kurang produktif dan merugikan petani karena umur mulai
berbuahnya lama 3-5 tahun, pertumbuhan cabang buah lambat, gembong tanaman lada ramping.

Pemangkasan sulur cacing
Sulur cacing adalah sulur panjat yang keluar dari pangkal batang tanaman lada dan tumbuhnya tidak melekat
pada tajar, tetapi menjalar di permukaan tanah. Sulur cacing tidak mempunyai cabang buah dan mengganggu
pertumbuhan tanaman. Untuk itu sulur cacing harus dipangkas agar pertumbuhan tanaman lada normal, pangkal batang lada tidak lembab dan tidak mengggangu pembokoran dan pemupukan tanaman lada. Sulur cacing mempunyai sifat hampir sama dengan sulur gantung, tidak baik untuk bahan tanaman karena akan menghasilkan tanaman lada sampai umur 1-2 tahun tidak tumbuh cabang buah. Sehingga penggunaan bahan tananam lada dari sulur cacing tidak produktif dan merugikan petani karena umur lada mulai berproduksinya lama 3-5 tahun, cabang buah keluarnya lambat dan gembong lada ramping.

Pengendalian gulma
Gulma di kebun lada dikendalikan dengan cara dipangkas, agar gulma tetap tumbuh namun tidak menggangu
tanaman lada, sehingga keragaman hayati di kebun lada stabil, tersedia nektar bagi musuh alami, aliran air
dipermukaan tanah di musim hujan terhambat, penyebaranpenyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB) melalui aliran air di musim hujan terhambat, dapat diminimalisir dan proses pelapukan/dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme non patogenik di kebun lada terus terjadi dan perkembangan patogen berbahaya di dalam tanah terhambat.

Pemupukan
Pemupukan dan pemangkasan tajar Tanaman lada memerlukan pupuk organik dan anorganik. Pemberiannya dapat dilakukan secara terpisah maupun secara bersama-sama dengan mencampur pupuk organik dan inorganik sebelum diberikan pada tanaman lada. Pemupukan inorganik sebanyak 1.600 gr NPKMg (12-12-17- 2)/tanaman/tahun untuk tanaman produktif.  Tajar dipangkas 7-10 hari sebelum dilakukan
pemupukan, agar tidak terjadi kompetisi hara dan memaksimalkan masuknya sinar matahari. Pupuk organik
(pupuk kandang atau kompos) 5-10 kg/tanaman/tahun.

Pemberian pupuk dilakukan dengan mengikis/mengangkat permukaan tanah di sekitar tanaman, pupuk disebarkan kemudian ditutup kembali dengan tanah kikisan ditambah tanah dari sekitar tanaman. Tanaman lada berumur >12 bulan, dosis pupuk anorganik 1/8 total (200 g ) NPK Mg.

Tanaman berumur 13-24 bulan diberikan 1/4 dosis total (400 gr /tanaman/tahun) dengan interval 2 kali dan
agihan pupuk 3 : 7 ( 12 dan 280 gr) selama ada hujan, ditambah 5-10 kg pupuk kandang pada waktu pemberian pertama.

Penyiangan terbatas / bebokor
Penyiangan terbatas/bebokor dilakukan secara rutin yaitu membersihkan sekitar tanaman lada. Areal dalam radius lebih kurang 60 cm di bawah kanopi tanaman lada atau di sekitar pangkal batang lada harus bersih gulma/disiang bersih (bebokor).

Hama dan Penyakit

Jenis hama dan penyakit
Hama utama yang menyerang tanaman lada adalah penggerek batang (Lophobaris piperis) , pengisap buah (
Dasynus piperis) , pengisap bunga (Diconocoris hewetti). Penyakit utama tanaman lada adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici.

1 comment: